Showing posts with label Salawat. Show all posts
Showing posts with label Salawat. Show all posts

Shalawat


Pengertian Sholawat dan Salam atas nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam:
Allah subhaanhu wa ta’aala berfirman:
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.S. Al-Ahzab: 56)
Ibnu Katsir-Rahimahullah- berkata:
“Maksud ayat ini adalah bahwa Allah subhaanhu wa ta’aala mengabarkan kepada hamba-hamba-Nya tentang kedudukan hamba dan nabi-Nya (Muhammad) di sisi-Nya di langit di mana malaikat-malaikat bersholawat untuknya, lalu Allah subhaanhu wa ta’aala memerintahkan makhluk-makhluk yang ada di bumi untuk bersholawat dan salam untuknya, agar pujian tersebut berkumpul untuknya dari seluruh alam baik yang ada di atas maupun yang ada di bawah.”
Ibnul Qoyyim -Rahimahullah- berkata dalam buku “Jalaul Afham”:
“Artinya bahwa jika Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk rasul-Nya, maka hendaklah kalian juga bersholawat dan salam untuknya karena kalian telah mendapatkan berkah risalah dan usahanya, seperti kemuliaan di dunia dan di akhirat.”
Banyak pendapat tentang pengertian Sholawat untuk nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam, dan yang benar adalah seperti apa yang dikatakan oleh Abul Aliyah:
“Sesungguhnya Sholawat dari Allah itu adalah berupa pujian bagi orang yang bersholawat untuk beliau di sisi malaikat-malaikat yang dekat”
Imam Bukhari meriwayatkannya dalam Shohihnya dengan komentar yang kuat- Dan ini adalah mengkhususkan dari rahmat-Nya yang bersifat umum. Pendapat ini diperkuat oleh syekh Muhammad bin ‘Utsaimin.
Salam: Artinya keselamatan dari segala kekurangan dan bahaya, karena dengan merangkaikan salam itu dengan sholawat maka kitapun mendapatkan apa yang kita inginkan dan terhapuslah apa yang kita takutkan. Jadi dengan salam maka apa yang kita takutkan menjadi hilang dan bersih dari kekurangan dan dengan sholawat maka apa yang kita inginkan menjadi terpenuhi dan lebih sempurna. Demikian yang dikatakan oleh Syekh Muhammad bin ‘Utsaimin.
Hukum Sholawat Untuk Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam
Menurut madzhab Hanbaliy, sholawat dalam tasyahhud akhir itu adalah termasuk di antara rukun-rukun sholat.
Al-Qodhi Abu Bakar bin Bakir berkata:
“Allah subhaanhu wa ta’aala telah mewajibkan makhluk-Nya untuk bersholawat dan salam untuk nabi-Nya, dan tidak menjadikan itu dalam waktu tertentu saja. Jadi yang wajib adalah hendaklah seseorang memperbanyak sholawat dan salam untuk beliau dan tidak melalaikannya.”
Saat-Saat Yang Disunnahkan dan Dianjurkan Membaca Sholawat dan Salam Untuk Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam:
1. Sebelum berdoa:
Fadhalah bin ‘Abid berkata: “Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang laki-laki berdoa dalam sholatnya, tetapi tidak bersholawat untuk nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda: “Orang ini tergesa-gesa” Lalu beliau memanggil orang tersebut dan bersabda kepadanya dan kepada yang lainnya:
“Bila salah seorang di antara kalian sholat (berdoa) maka hendaklah ia memulainya dengan pujian dan sanjungan kepada Allah lalu bersholawat untuk nabi, kemudian berdoa setelah itu dengan apa saja yang ia inginkan.” [H.R. Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad dan Hakim]
Dalam salah satu hadits disebutkan:
“Doa itu terhalangi, hingga orang yang berdoa itu bersholawat untuk nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam.” [H.R. Thabarani]
Ibnu ‘Atha berkata: “Doa itu memiliki rukun-rukun, sayap-sayap, sebab-sebab dan waktu-waktu. Bila bertepatan dengan rukun-rukunnya maka doa itu menjadi kuat, bila sesuai dengan sayap-sayapnya maka ia akan terbang ke langit, bila sesuai dengan waktu-waktunya maka ia akan beruntung dan bila bertepatan dengan sebab-sebabnya maka ia akan berhasil.”
Adapun rukun-rukunnya adalah menghadirkan hati, perasaan tunduk, ketenangan, kekhusyu’an, dan ketergantungan hati kepada Allah, sayap-sayapnya adalah jujur, waktu-waktunya adalah di saat sahur dan sebab-sebabnya adalah sholawat untuk nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam.
2. Ketika menyebut, mendengar dan menulis nama beliau:
Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Celakalah seseorang yang namaku disebutkan di sisinya lalu ia tidak bersholawat untukku.” [H.R. Tirmidzi dan Hakim]
3. Memperbanyak sholawat untuknya pada hari Jum’at:
Dari ‘Aus bin ‘Aus berkata: “Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya di antara hari-hari yang paling afdhal adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah sholawat untukku pada hari itu, karena sholawat kalian akan sampai kepadaku……” [H. R. Abu Daud, Ahmad dan Hakim]
4. Sholawat untuk nabi ketika menulis surat dan apa yang ditulis setelah Basmalah:
Al-Qodhi ‘Iyadh berkata: “Inilah saat-saat yang tepat untuk bersholawat yang telah banyak dilakukan oleh umat ini tanpa ada yang menentang dan mengingkarinya. Dan tidak pula pada periode-periode awal. Lalu terjadi penambahan pada masa pemerintahan Bani Hasyim -Daulah ‘Abbasiah- lalu diamalkan oleh umat manusia di seluruh dunia.”
Dan di antara mereka ada pula yang mengakhiri bukunya dengan sholawat.
5. Ketika masuk dan keluar mesjid:
Dari Fatimah -Radhiyallahu ‘Anha- berkata: “Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bila anda masuk mesjid, maka ucapkanlah:
”Dengan nama Allah, salam untuk Rasulullah, ya Allah sholawatlah untuk Muhammad dan keluarga Muhammad, ampunilah kami dan mudahkanlah bagi kami pintu-pintu rahmat-Mu.”
“Dan bila keluar dari mesjid maka ucapkanlah itu, tapi (pada penggalan akhir) diganti dengan:
“Dan permudahlah bagi kami pintu-pintu karunia-Mu.” [H.R. Ibnu Majah dan Tirmidzi]
Cara Sholawat dan Salam Untuk Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam
Allah sollallohu ‘alaihi wa sallam berfirman:
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Q.S. Al-Ahzab: 56)
Jadi yang utama adalah dengan menggandengkan sholawat dan salam bersama-sama, dengan harapan agar doanya dapat dikabulkan oleh Allah sollallohu ‘alaihi wa sallam Inilah bentuk sholawat dan salam untuk beliau sollallohu ‘alaihi wa sallam Dari Abi Muhammad bin ‘Ajrah -Radhiyallahu ‘Anhu- berkata: “Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam keluar kepada kami, lalu saya berkata: “Wahai Rasulullah! Kami telah mengetahui bagaimana kami memberi salam kepadamu, maka bagaimana kami bersholawat untukmu?” Maka beliau bersabda: “Katakanlah:
“Ya Allah! Berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkati keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkaulah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” [Muttafqun ‘Alaihi]
Dan dari Abi Hamid As-Sa’id -Radhiyallahu ‘Anhu- berkata: “Mereka bertanya: “Ya Rasulullah bagaimana kami bersholawat untukmu? Beliau menjawab: “Katakanlah:
“Ya Allah! Berilah sholawat untuk Muhammad, istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau memberi sholawat untuk Ibrahim. Berkatilah Muhammad, istri-istri dan keturunannya, sebagaimana Engkau memberkati Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” [Muttafaqun ‘Alaihi]
Kedua hadits ini menunjukkan bentuk sholawat yang sempurna untuk Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam.
Keutamaan Sholawat dan Salam Untuk Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam
Dari Umar -Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jika kalian mendengar orang yang adzan maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan dan bersholawatlah untukku karena barangsiapa yang bersholawat untukku sekali maka Allah akan bersholawat untuknya sepuluh kali, kemudian mintalah wasilah (kedudukan mulia di surga) untukku, karena ia adalah suatu kedudukan di surga yang tidak pantas diberikan kecuali kepada seorang hamba dari hamba-hamba Allah dan semoga akulah hamba itu, maka barangsiapa yang memohon untukku wasilah maka ia berhak mendapatkan syafa’at.” [H.R. Muslim]
Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang bersholawat untukku di waktu pagi sepuluh kali dan di waktu sore sepuluh kali, maka ia berhak mendapatkan syafa’atku.” [H.R. Thabarani]
Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang bersholawat atasku sekali, maka Allah akan bersholawat untuknya sepuluh kali.” [H.R. Muslim, Ahmad dan perawi hadits yang tiga]
Dan dari Abdurrahman bin ‘Auf -Radhiyallahu ‘Anhu- berkata: “Saya telah mendatangi nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam ketika ia sedang sujud dan memperpanjang sujudnya. Beliau bersabda:“Saya telah didatangi Jibril, ia berkata: “Barangsiapa yang bersholawat untukmu, maka saya akan bersholawat untuknya dan barangsiapa yang memberi salam untukmu maka saya akan memberi salam untuknya, maka sayapun bersujud karena bersyukur kepada Allah.” [H.R. Hakim, Ahmad dan Jahadhmiy]
Ya’qub bin Zaid bin Tholhah At-Taimiy berkata: “Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Telah datang kepadaku (malaikat) dari Tuhanku dan berkata: “Tidaklah seorang hamba yang bersholawat untukmu sekali kecuali Allah akan bersholawat untuknya sepuluh kali.” Maka seseorang menuju kepadanya dan bertanya: “Ya Rasulullah! Apakah saya jadikan seperdua doaku untukmu?” Beliau menjawab: “Jika anda mau”. Lalu bertanya: “Apakah saya jadikan sepertiga doaku?” Beliau bersabda: “Jika anda mau” Ia bertanya: “Kalau saya jadikan seluruh doaku?” Beliau bersabda: “Jika demikian maka cukuplah Allah sebagai motivasi dunia dan akhiratmu.” [H.R. Al-Jahdhami, Al-Albani berkata: “Hadits Mursal dengan Isnad yang Shohih]
Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling menyampaikan salam kepadaku dari umatku.” [H.R. Nasa’i dan Hakim]
Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang bersholawat untukku sekali maka Allah akan bersholawat untuknya sepuluh kali, diampuni sepuluh dosa-dosanya dan diangkat baginya sepuluh derajat.” [H.R. Ahmad dan Bukhari, Nasa’i dan Hakim dan ditashih oleh Al-Albani]
Hadits marfu’ dari Ibnu Mas’ud: “Manusia yang paling utama di sisiku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak bersholawat untukku.” [H.R. Tirmidzi dan berkata: “Hasan ghorib dan H.R. Ibnu Hibban]
Dari Jabir bin Abdullah berkata: “Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang ketika mendengarkan adzan membaca:
“Ya Allah! Tuhan pemilik adzan yang sempurna ini dan sholat yang ditegakkan, berilah Muhammad wasilah dan fadhilah dan bangkitkanlah ia pada tempat terpuji yang telah Engkau janjikan untuknya.”
Maka ia berhak mendapatkan syafa’at pada hari kiamat. [H.R. Bukhari dalam shohihnya]
Celaan Bagi Yang Tidak Bersholawat Untuk Nabi.
Dari Abu Huraerah -Radhiyallahu ‘Anhu-­ berkata: “Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Celakalah seseorang yang jika namaku disebut di sisinya ia tidak bersholawat untukku, celakalah seseorang, ia memasuki bulan Ramadhan kemudian keluar sebelum ia diampuni, celakalah seseorang, kedua orang tuanya telah tua tetapi keduanya tidak memasukkannya ke dalam surga.” Abdurrahman salah seorang perawi hadits dan Abdurrahman bin Ishak berkata: “Saya kira ia berkata: “Atau salah seorang di antara keduanya” [H.R. Tirmidzi dan Bazzar]
Dari Ali bin Abi Thalib, dari Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Orang yang paling bakhil adalah seseorang yang jika namaku disebut ia tidak bersholawat untukku.” [H.R. Nasa’i, Tirmidzi dan Thabaraniy]
Dari Ibnu Abbas, Rasul sollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang lupa mengucapkan sholawat untukku maka ia telah menyalahi jalan surga.” [Telah ditashih oleh Al-Albani]
Dari Abu Hurairah, Abul Qosim bersabda: “Suatu kaum yang duduk pada suatu majelis lalu mereka bubar sebelum dzikir kepada Allah dan bersholawat untuk nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam, maka Allah akan menimpakan kebatilan atas mereka, bila Ia menghendaki maka mereka akan disiksa dan bila Ia menghendaki maka mereka akan diampuni.” [H.R. Tirmidzi dan mentahsinnya serta Abu Daud]
Diriwayatkan oleh Abu Isa Tirmidzi dari sebagian ulama berkata: “Jika seseorang bersholawat untuk nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam sekali dalam suatu majelis, maka itu sudah memadai dalam majelis tersebut.”
Faedah dan Buah Sholawat Untuk Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam:
Ibnul Qoyyim menyebutkan 20 manfaat sholawat untuk nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam, di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Melaksanakan perintah Allah subhaanahu wa ta’aala
2. Mendapatkan sepuluh sholawat dari Allah bagi yang membaca sholawat satu kali.
3. Ditulis baginya sepuluh kebaikan dan dihapus darinya sepuluh kejahatan.
4. Diangkat baginya sepuluh derajat.
5. Kemungkinan doanya terkabul bila ia mendahuluinya dengan sholawat, dan doanya akan naik menuju kepada Tuhan semesta alam.
6. Penyebab mendapatkan syafa’at sollallohu ‘alaihi wa sallam bila diiringi oleh permintaan wasilah untuknya atau tanpa diiringi olehnya.
7. Penyebab mendapatkan pengampunan dosa.
8. Dicukupi oleh Allah apa yang diinginkannya.
9. Mendekatkan hamba dengan nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam pada hari kiamat.
10.Menyebabkan Allah dan malaikat-Nya bersholawat untuk orang yang bersholawat.
11.Nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam menjawab sholawat dan salam orang yang bersholawat untuknya.
12.Mengharumkan majelis dan agar ia tidak kembali kepada keluarganya dalam keadaan menyesal pada hari kiamat.
13.Menghilangkan kefakiran.
14.Menghapus predikat “kikir” dari seorang hamba jika ia bersholawat untuk nabi sollallohu ‘alaihi wa sallam ketika namanya disebut.
15.Orang yang bersholawat akan mendapatkan pujian yang baik dari Allah di antara penghuni langit dan bumi, karena orang yang bersholawat, memohon kepada Allah agar memuji, menghormati dan memuliakan rasul-Nya, maka balasan untuknya sama dengan yang ia mohonkan, maka hasilnya sama dengan apa yang diperoleh oleh rasul-Nya.
16.Akan mendapatkan berkah pada dirinya, pekerjaannya, umurnya dan kemaslahatannya, karena orang yang bersholawat itu memohon kepada Tuhannya agar memberkati nabi-Nya dan keluarganya, dan doa ini terkabul dan balasannya sama dengan permohonannya.
17.Nama orang yang bersholawat itu akan disebutkan dan diingat di sisi Rasul sollallohu ‘alaihi wa sallam seperti penjelasan terdahulu, sabda Rasul: “Sesungguhnya sholawat kalian akan diperdengarkan kepadaku.” Sabda beliau yang lain: “Sesungguhnya Allah mewakilkan malaikat di kuburku yang menyampaikan kepadaku salam dari umatku.” Dan cukuplah seorang hamba mendapatkan kehormatan bila namanya disebut dengan kebaikan di sisi Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam.
18.Meneguhkan kedua kaki di atas Shirath dan melewatinya berdasarkan hadits Abdurrahman bin Samirah yang diriwayatkan oleh Said bin Musayyib tentang mimpi Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam: “Saya melihat seorang di antara umatku merangkak di atas Shirath dan kadang-kadang berpegangan lalu sholawatnya untukku datang dan membantunya berdiri dengan kedua kakinya lalu menyelamatkannya.” [H.R. Abu Musa Al-Madiniy]
19.Akan senantiasa mendapatkan cinta Rasulullah sollallohu ‘alaihi wa sallam bahkan bertambah dan berlipat ganda. Dan itu termasuk ikatan Iman yang tidak sempurna kecuali dengannya, karena seorang hamba bila senantiasa menyebut nama kekasihnya, menghadirkan dalam hati segala kebaikan-kebaikannya yang melahirkan cinta, maka cintanya itu akan semakin berlipat dan rasa rindu kepadanya akan semakin bertambah, bahkan akan menguasai seluruh hatinya. Tetapi bila ia menolak mengingat dan menghadirkannya dalam hati, maka cintanya akan berkurang dari hatinya. Tidak ada yang lebih disenangi oleh seorang pecinta kecuali melihat orang yang dicintainya dan tiada yang lebih dicintai hatinya kecuali dengan menyebut kebaikan-kebaikannya. Bertambah dan berkurangnya cinta itu tergantung kadar cintanya di dalam hati, dan keadaan lahir menunjukkan hal itu.
20.Akan mendapatkan petunjuk dan hati yang hidup. Semakin banyak ia bersholawat dan menyebut nabi, maka cintanyapun semakin bergemuruh di dalam hatinya sehingga tidak ada lagi di dalam hatinya penolakan terhadap perintah-perintahnya, tidak ada lagi keraguan terhadap apa-apa yang dibawanya, bahkan hal tersebut telah tertulis di dalam hatinya, menerima petunjuk, kemenangan dan berbagai jenis ilmu darinya. Ulama-ulama yang mengetahui dan mengikuti sunnah dan jalan hidup beliau, setiap pengetahuan mereka bertambah tentang apa yang beliau bawa, maka bertambah pula cinta dan pengetahuan mereka tentang hakekat sholawat yang diinginkan untuknya dari Allah.
Sholawat dan salam untuk nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya

Sall-Allahu Alayhi Wa Sallam

They were circumambulating the Ka'ba, when Ka'ab bin Ujrah asked Abdul Rahman ibn Abi Lailah: "Shall I not give you a precious gift?" A gift in the middle of that act of intense devotion? Abdul Rahman was a prominent tabayi, i.e. from the generation that came after the generation of the companions. Ka'ab, may Allah be pleased with him, was one of the 1400 Companions who were part of the Covenant of al Ridwan, a covenant to live or fall together to avenge the blood of Uthman bin Affan, Radi-Allahu anhu, who had been feared to have been murdered by the Quraish. To know this background is to get a clue to the special gift.
While Muslims were stationed at Hudaybiyah, where the covenant took place, many delegations of Quraish had visited them. Among them was Urwah ibn Mas'ud al Thaqafi. It was he who reported the extra-ordinary relationship of the companions with the Prophet, Sall-Allahu alayhi wa sallam Sall-Allahu alayhi wa sallam: "I have seen Caesar and Chosroes in their pomp, but never have I seen a man honored as Muhammad is honored by his comrades."
The gift that Ka'ab gave to ibn Abi Lailah was the hadith that gives us the salawat (benediction) that we use in regular prayers. The companions asked the proper way of sending the blessings, when the verse requiring them to do so was revealed.
[Image]
"Lo Allah and His angels shower blessings on the Prophet. O ye who believe! Ask blessings on him and salute him with a worthy salutation." [Al-Ahzab, 33:56].
Then the Prophet, Sall-Allahu alayhi wa sallam Sall-Allahu alayhi wa sallam, taught them the exact words, as they themselves were revealed to him by Allah.
A prophet of God is a unique person. He acts as the link between the people and their Creator. He is a human being, yet he speaks for God. The most difficult task for followers of a prophet has always been that of dealing with the prophet as a prophet. It is so easy to go to extremes. Make him divine, God-incarnate, Son of God. Or make him just another man, attributing all human weaknesses and sins to him. Religious literature of major religions in the world is testimony to these tendencies. It is a story of abject human failure in this matter.
One must contrast that with the beautiful and delicate balance presented by Islam. Here the Prophet is the perfect human being, but he is not Divine. He speaks for God but he is not God. He is the object of our gratitude, ardent love and devotion, unswerving allegiance, and deference. But he is not the object of our worship. We ask Allah to send His blessings on him which at once makes two very important statements. First, he needs Allah's blessings. Second, we cannot bless him, only Allah can. It is not possible for those who always invoke Allah's blessings for the Prophet, to degrade him to the level of other human beings, or to elevate him to the level of divinity. The benediction, Sall-Allahu alayhi wa sallam Sall-Allahu alayhi wa sallam, is a magic formula that fights both tendencies equally effectively. It also strikes at the roots of shirk, the tendency to associate partners with Allah. For we have met the perfect human being, the example to follow. And we found him to be a servant of Allah. Sall-Allahu alayhi wa sallam Sall-Allahu alayhi wa sallam.
For centuries Muslims lovingly added the benediction, whenever they mentioned the name of the Prophet, Sall-Allahu alayhi wa sallam Sall-Allahu alayhi wa sallam. The hadith literature is a good example of this labor of love. For here the name of the Prophet, Sall-Allahu alayhi wa sallam Sall-Allahu alayhi wa sallam, is mentioned repeatedly. Yet the muhadithun never tired of writing the benediction. That was at a time when every book was written by hand, and all its copies were also made by hand. It was never considered a burden or an unnecessary interruption. A brief recent statement from a professor of hadith at one Islamic religious school captures the spirit. "The merits of studying hadith are innumerable and those interested can read Ibn Abdul Bar's book on the subject," he said. "But it is sufficient to note that through this study we get plenty of opportunities for saying the benediction, Sall-Allahu alayhi wa sallam Sall-Allahu alayhi wa sallam."
And so for centuries this practice has continued unabated throughout the Muslim world. Also, realizing the importance of a "worthy benediction" Muslims always used the Arabic expression in other languages, be they Urdu, Farsi, Bangla, or others. For the first time in history, we find a break from this practice, and this spirit, when reviewing the Islamic literature in English.
Initially some one substituted "peace be upon him" for "Sall-Allahu alayhi wa sallam Sall-Allahu alayhi wa sallam." But it is not even a proper translation. Then some one thought of abbreviating it to pbuh. It, of course, did not improve the translation or the readability. Others came up with innovations of their own. One Islamic text book in English notes in the beginning: "After using the name of the Prophet Muhammad, Muslims should write or say the honorific phrase, Sall-Allahu alayhi wa sallam Sall-Allahu alayhi wa sallam...Due to limited space this honorific phrase has been omitted.. but should be inserted when reading the book." Another book goes a little further by acknowledging the "long established and cherished tradition", but then announces bluntly: "To avoid interrupting the flow of ideas, especially for non-Muslim readers, I have not followed the customary practice." A majority of recent Islamic books published in the U.S. and U.K. by reputable Muslim organizations, though, do not feel the need for any excuse or explanation, whatsoever. They simply mention the Prophet, Sall-Allahu alayhi wa sallam Sall-Allahu alayhi wa sallam, as they would any ordinary person.
It is time we moved beyond our hesitations, confusions, or inferiority complexes. This is the Ummah of the Last Prophet. In every language of the world, our Prophet is Muhammad, Sall-Allahu alayhi wa sallam Sall-Allahu alayhi wa sallam.

Keajaiban Selawat

Selalu kita dengar – di ceramah-ceramah agama (bukan ceramah politik), di kaca TV selepas subuh, di radio (terutama IKIM) – mengingatkan kita tentang betapa pentingnya selawat. Penceramah sendiri pun selalu berselawat ketika hendak memulakan dan mengakhiri ceramahnya. Begitu juga dengan guru agama – berselawat di permulaan dan penghujung sesi pengajarannya.
Apakah pentingnya selawat? Kenapa semua orang berselawat? Besar sangatkah selawat itu? Mari kita sama-sama selidik kebesaran selawat ini. Tak seronoklah berselawat bila kita tak tahu kelebihan-kelebihan selawat. Oleh itu, pagi ini kita akan membincangkan tentang keajaiban selawat.
  1. Sabda Rasullah SAW: Barangsiapa yang berselawat ke atasku sekali, nescaya Allah akan turunkan rahmat ke atasnya 10 kali ganda – (Hadis Riwayat Muslim.)
  2. Allah akan hapuskan dosa-dosa kecil dengan kita mengamalkan berselawat sebanyak 11 kali setiap kali selesai menunaikan solat fardu.
  3. Jodoh ditentukan oleh Allah. Amalkan selawat 100 kali sehari, insyaAllah akan dipermudahkan bertemu jodoh sama ada lelaki @ wanita.
  4. Setiap penyakit ada penawarnya. Bacalah selawat 7 kali pada air dan minum. Insya Allah, perut yang sakit atau memulas akan sembuh.
  5. Sesiapa yang amal membaca selawat 3 kali setiap selepas solat 5 waktu akan dihilangkan kebuntuan fikiran dalam menghadapi apa jua masalah.
  6. Amalkan membaca selawat sebanyak 1000 kali sehari, insya Allah akan dikurniakan kebijaksanaan pemikiran. Di samping itu berusahalah untuk menerokai pelbagai ilmu.
  7. Sesiapa yang mengamalkan berselawat 11 kali setiap hari, dengan izin Allah dirinya akan lebih dihormati dan dihargai oleh orang lain.
  8. Menurut Sayyid Ahmad Dahlan, sesiapa yang berselawat walau sekali pada malam Jumaat, saat mautnya kelak akan dipermudahkan Allah seperti yang dihadapi oleh para nabi.
  9. Sesiapa yang berselawat 41 kali sehari, Insya Allah akan dihindarkan daripada sifat tercela seperti hasad dengki dan sebagainya dalam dirinya.
  10. Sesiapa yang amalkan berselawat 1000 kali pada malam Jumaat, insya-Allah akan beroleh kebahagiaan sama ada di dunia mahu pun di akhirat.
  11. Amalkan selawat 11 kali tiap kali selesai solat fardu kerana Allah akan mengindahkan akhlaknya menjadi lebih disenangi di kalangan orang lain.
  12. Berselawat 33 kali sehari dapat menjernihkan hati, mudah memahami akan sesuatu ilmu yang diajarkan, di samping beroleh ketenangan fikiran.
  13. Sesiapa yang berselawat tak kiralah banyak mana hitungannya setiap hari akan dapat keberkatan dalam apa jua dengan syarat ia berusaha mencari keredhaan-Nya.
  14. Amalan berselawat sebanyak yang mungkin setiap hari menjamin keselamatan hidup dan pertolongan Allah, lebih-lebih lagi pada saat kita menghadapi kesukaran hidup.
  15. Menurut Syibab Ahmad, sesiapa berselawat 3 kali setiap selesai solat Subuh, Maghrib & Isyak, Allah akan menghindarkannya daripada sebarang bencana.
  16. Sesiapa yang amalkan berselawat sebanyak 1000 kali setiap hari, Allah akan memeliharanya daripada sebarang ancaman musuh serta bahaya fitnah.
  17. Amalan berselawat secara teratur setiap hari mampu membersihkan kekeruhan jiwa, dipermudahkan Allah akan segala urusan dan mendapat keampunan daripadaNya.
  18. Menurut As-Shawi, sesiapa yang membaca selawat secara rutin, akan terpelihara hatinya daripada gangguan serta tipu daya syaitan yang melalaikan.
  19. Membaca selawat 10 kali pada setiap waktu pagi dan petang akan memperolehi keredhaan serta dijauhkan diri daripada mendapat kemurkaan Allah.
  20. Sesiapa yang membaca selawat sebanyak 7 kali selama 7 Jumaat berturut-turut, ia bakal mendapat syafaat (pertolongan) daripada baginda SAW.
  21. Menurut Al-Hafiz Dimyati, sesiapa yang berhajat menemui Nabi SAW dalam mimpinya maka amalkan membaca selawat sebanyak 70 kali sehari.
  22. Ada riwayat yang menyatakan bahawa amalan berselawat 80 kali tiap selepas solat Asar pada hari Jumaat, insya-Allah akan dihapuskan dosa-dosa kecil seseorang.
  23. Sesiapa yang sering mengamalkan berselawat pada setiap hari, Allah akan bukakan pintu rahmat dan rezeki yang tidak disangka-sangka baginya.
  24. Jiwa yang resah gelisah dapat ditenangkan dengan zikir, termasuklah berselawat sekerap yang mungkin kerana Allah itu Maha Luas rahmat-Nya.
  25. Ulamak berpendapat, sesiapa yang mengamalkan selawat saban hari tak kira berapa hitungannya, insya-Allah dihindarkan daripada taun dan wabak penyakit berbahaya yang lain.
  26. Membaca selawat 1000 kali selepas solat hajat 2 rakaat mampu menghilangkan keresahan, rasa dukacita serta dikabulkan Allah akan hajatnya.
  27. Menurut para ulama, sesiapa yang inginkan saat kematiannya dalam kesudahan yang baik, maka berselawatlah sebanyak 10 kali setiap selesai solat Maghrib.
  28. Para Ulamak berpendapat, Allah akan sempurnakan hajat yang baik dengan sentiasa berselawat 40 hingga 100 kali setiap hari, diikuti dengan usaha yang berterusan.
  29. Sabda Nabi SAW: Barangsiapa yang berselawat kepadaku sebanyak 100 kali pada hari Jumaat, maka ia akan datang pada hari kiamat dengan keadaan bercahaya – Hadis Riwayat Abu Naim.
  30. Sabda Nabii SAW: Barangsiapa berselawat kepadaku 10 kali pada waktu pagi dan 10 kali pada waktu petang tiap hari, ia akan beroleh syaafaatku pada hari kiamat – Hadis Riwayat Thabrani
Demikianlah betapa banyaknya ganjaran bagi orang-orang yang berselawat. Oleh itu, marilah kita perbanyakkan selawat dan salam ke atas baginda Nabi Muhammad Rasulullah s.a.w. Mudah-mudahan kita tergolong dalam orang-orang yang beruntung di dunia dan di akhirat, insya-Allah.
Wallahu a’lam.

Amalan Sunnah Menuju Surga : Membaca Shalawat kepada Rasulullah saw.


[Salah satu amalan sunnah yang akan menghantarkan seorang muslim masuk surga adalah membaca shalawat kepada Rosulullah saw . Hal ini berdasarkan firman Allah:]إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًاSesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (TQS. Al-Ahzab [33]: 56)
Juga berdasarkan hadits riwayat Muslim dari Abdullah bin Amru, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:
«مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا»
“Barangsiapa membaca shalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan memberi rahmat sepuluh kali kepadanya karena shalawat itu.”

(sumber : Pilar-pilar Pengokoh nafsiyah Islamiyah ; Hizbut Tahrir)

Selawat Badawi


Hijjaz - Selawat Badawi - Hijjaz

اللهم صلِّ وسلِّم وبارِك على سيدنا ومولانا محمدٍ شَجَرَةِ الأصل النُّوْرَانِيَّةِ، ولَمْعَةِ القَبْضَةِ الرَّحْمَانِيَّةِ، وأفضل الخلِيْقَةِ الإنْسانِيَّةِ، وأشْرَفِ الصُّوْرَةِ الجِسْمَانِيَّةِ، ومَعْدِنِ الأسْرَارِ الرَّبَّانِيَّةِ، وخزائِنِ العلومِ الإِصْطَفَائِيَّةِ.

صاحِبِ القَبْضَةِ الأصْلِيَّةِ، والبَهْجَةِ السَّنِيَّةِ، والرُّتْبَةِ العلِيّة، مَنِ انْدَرَجَت النبيون تحت لِوَائِهِ، فهم منه وإليه، وصلِّ وسلِّم وبارك عليه وعلى آله وصحبه عدد ما خَلَقْتَ ورَزَقْتَ وأمَتَّ وأحْيَيْتَ إلى يوم تُبْعَثُ مَنْ أفْنَيْتَ، وسلِّمْ تسليماً كثيرًا، والحمد لله رب العالمين.

Ya Allah limpahkanlah rahmat, keselamatan dan keberkahan kepada junjungan kami Nabi Muhammad s.a.w., sebagai sumber cahaya, sebagai genggaman kesayangan yang berkilauan, sebagai manusia yang paling utama, semulia-semulia jasad, sumber galian rahsia ketuhanan dan khazanah ilmu-ilmu yang terpilih dan suci.

Pemilik genggaman yang asli, yang gemilang dan kedudukan yang tinggi di mana kenabian berlangsung di bawah panjinya. Maka mereka adalah di bawah perintahnya. Rahmatilah dan kurniakanlah kesejahteraan dan keberkatan ke atasnya, ahli keluarganya dan para sahabatnya sebanyak bilangan barang apa yang telah Engkau ciptakan, yang Engkau kurniakan rezeki, yang Engkau matikan dan hidupkan hinggalah ke hari di mana Engkau bangkitkan orang yang telah Engkau matikan. Kurniakanlah kesejahteraan ke atasnya dengan kesejahteraan yang sebanyak-banyaknya dan segala pujian milik Allah tuhan sekalian alam.

Selawat ini digubah oleh Wali Qutub Sayyid Ahmad Idris Al-Badawi qaddasallah sirruhu.

Fadhilatnya :

1. Menghindar dari sihir dan segala kejahatan zahir dan batin. Bacalah selawat ini 3x setiap kali selepas solat fardhu dan 7x setiap mau tidur.

2. Mendapat kedudukan tinggi dengan riyadah selawat ini.

Puasa 3 hari mulai Selasa, Rabu, Khamis.

Selama puasa baca selawat ini 21x setiap kali selesai solat fardhu. Disertai niat memohon pertolongan dari Allah Taala agar dikokohkan kedudukan dan mendapat rezeki yang halal.

Selesai berpuasa amalkan selawat ini 7x setiap hari sebagai amalan harian.

3. Menurut Syed Ahmad Zaini Dahlan barangsiapa melazimi membaca selawat ini akan mendapat cahaya batin dan terbuka beberapa rahsia yang ghaib. (yakni mengetahui hakikat disebalik peristiwa kejadian-penulis.)

Wallahu a’lam.


Sumber :

1. K.H. Habib Syarief Muhammad Alaydarus. 135 Shalawat Nabi Keutamaan Tatacara & Khasiatnya. Bandung, Indonesia: Pustaka Hidayah, 2007.

2. Saad Qadhi. Al-Arief Billah Sayyidi Ahmad Al-Badawi. Kaherah, Mesir: Dar Qharib, 2001.

3. Drs. Hanafi Mohamed. 99 Selawat Nabi s.a.w. Fadhilat & Khasiatnya. Kuala Lumpur, Malaysia: Darul Nu’man, 1994.

4. Dadang Sobar Ali & Drs. Maman Abd. Djaliel. 100 Shalawat Nabi Paling Berkhasiat. Bandung, Indonesia: CV Pustaka Setia, 2007.

Sholawat Nariyah

Membaca shalawat nariyah adalah salah satu amalan yang disenangi orang-orang NU, di samping amalan-amalan lain semacam itu. Ada shalawat "thibbil qulub", ada shalawat "tunjina", dan masih banyak lagi. Belum lagi bacaan "hizib" dan "rawatib" yang tak terhitung banyaknya. Semua itu mendorong semangat keagamaan dan cinta kepada Rasulullah SAW sekaligus beribadah.

Salah satu hadits yang sangat populer yang membuat rajin kita membaca shalawat ialah bahwa Rasulullah SAW bersabda: Siapa membaca shalawat untukku, Allah akan membalasnya 10 kebaikan, diampuni 10 dosanya, dan ditambah 10 derajat baginya. Makanya, bagi orang-orang NU, setiap kegiatan keagamaan bisa disisipi bacaan shalawat dengan segala ragamnya.

Salah satu shalawat yang sangat populer ialah "shalawat badar". Hampir setiap warga NU, dari anak kecil sampai kakek dan nenek, dapat dipastikan bisa melantunkan shalawat Badar. Bahkan saking populernya, orang bukan NU pun ikut hafal karena pagi, siang, malam, acara di mana dan kapan saja shalawat badar selalu dilantunkan bersama-sama.

Nah shalawat yang satu ini, "shalawat Nariyah", tidak kalah populernya di kalangan warga NU. Khususnya bila menghadapi problem hidup yang sulit dipecahkan maka tidak ada jalan lain selain mengembalikan persoalan pelik itu kepada Allah. Dan Shalawat Nariyah adalah salah satu jalan mengadu kepada-Nya.

Berikut ini adalah bacaan shalawat nariyah:

أللّهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الّذِي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat dirinya yang mulia hujanpun turun, dan semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau.

Dalam kitab Khozinatul Asror (hlm. 179) dijelaskan, “Salah satu shalawat yang mustajab ialah Shalawat Tafrijiyah Qurthubiyah, yang disebut orang Maroko dengan Shalawat Nariyah karena jika mereka (umat Islam) mengharapkan apa yang dicita-citakan, atau ingin menolak yang tidak disukai mereka berkumpul dalam satu majelis untuk membaca shalawat nariyah ini sebanyak 4444 kali, tercapailah apa yang dikehendaki dengan cepat (bi idznillah).”

“Shalawat ini juga oleh para ahli yang tahu rahasia alam diyakini sebagai kunci gudang yang mumpuni:. .. Dan imam Dainuri memberikan komentarnya: Siapa membaca shalawat ini sehabis shalat (Fardhu) 11 kali digunakan sebagai wiridan maka rizekinya tidak akan putus, di samping mendapatkan pangkat kedudukan dan tingkatan orang kaya.”

Hadits riwayat Ibnu Mundah dari Jabir mengatakan: Rasulullah SAW bersabda: Siapa membaca shalawat kepadaku sehari 100 kali (dalam riwayat lain): Siapa membaca shalawal kepadaku 100 kali maka Allah akan mengijabahi 100 kali hajatnya; 70 hajatnya di akhirat, dan 30 di dunia... Dan hadits Rasulullah yang mengatakan; Perbanyaklah shahawat kepadaku karena dapat memecahkan masalah dan menghilangkan kesedihan. Demikian seperti tertuang dalam kitab an-Nuzhah yang dikutib juga dalam Khozinatul Asror.

Diriwayatkan juga Rasulullah di alam barzakh mendengar bacaan shalawat dan salam dan dia akan menjawabnya sesuai jawaban yang terkait dari salam dan shalawat tadi. Seperti tersebut dalam hadits, beliau bersabda: Hidupku, juga matiku, lebih baik dari kalian. Kalian membicarakan dan juga dibicarakan, amal­-amal kalian disampaikan kepadaku, jika saya tahu amal itu baik, aku memujii Allah, tetapi kalau buruk aku mintakan ampun kepada Allah. Hadits riwayat al-Hafizh Ismail al­Qadhi, dalam bab Shalawat ‘ala an-Naby. Imam Haitami menyebutkan dalam kitab Majma' az-Zawaid, ia menganggap shahih hadits di atas.

Hal ini jelas bahwa Rasulullah memintakan ampun umatnya di alam barzakh. Istighfar adalah doa, dan doa untuk umatnya pasti bermanfaat. Ada lagi hadits lain: Rasulullah bersabda: Tidak seorang pun yang memberi salam kepadaku kecuali Allah akan menyampaikan kepada ruhku sehingga aku bisa mennjawab salam itu. (HR Abu Dawud dari Abu Hurairah. Ada di kitab Imam an-Nawawi, dan sanadnya shahih).

KH Munawir Abdul Fattah
Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta

Allohumma shalli ala Muhammad



O noble believers, humbly and constantly request Divine Benediction for him,saluting him repeatedly with utmost love and respect.
- Holy Quran 33.56

Salawat are the prayers of angels and humanity praising and invoking blessing upon the Prophet Muhammad, the Crown of Creation and the Axis of Manifest Being, may Allah the Exalted bestow His grace ceaselessly upon him. Know that Allah desires the salawat prayer from our heart and greatly rewards it. For in actuality it is Allah who is praising the Prophet with the tongue of humanity. In the love between Allah, the Prophet and his ummat, humanity, resides the great secret of Creation. Allah is praised, the Prophet is praised and humanity is praised on the breath of Love coursing though the salawat, bringing all back to the Source of Love.

In the practice of Sufism everything is witnessed as part of oneself. Allah Most High and His noble prophets are within one’s being, as is the entire creation, from the angelic heavens to the lowest realms. Therefore when we pray for blessings upon the Prophet Muhammad, we may envision him before us or inside our self, either in his human form or as brilliant light. His being is our own inner heart, he is the precious pearl of our self. All humanity is his body. We beseech Allah to offer him the peace and blessings so that they originate from the Source of All Blessedness.

Whenever the name of the holy Prophet is mentioned we invoke blessings upon him: salallahu ‘alayhi wa salam, ‘Blessings and peace be upon him.’

When offering the Fatiha outside of the salat prayer, we begin with the salawat:

Allahumma salli ‘ala sayyidina Muhammad
O Allah bless our master Muhammad,
wa ‘ala ali Muhammad
the family of Muhammad,
wa sahbihi wa sallim
and all of his companions througout time,
and shower them with great peace.


O Allah, You Who are the only Reality and the loving foundation of our existence, please send Your blessings which are inestimable and beyond our understanding, to the Prophet Muhammad who is the soul of our being, and upon his family, and upon his intimate lovers, and upon the entire human family which is his blessed community.

This shorter version is also used:

Allahumma salli ‘ala sayyidina Muhammad salallahu ‘alayhi wa salam

Our love for the Prophet expands our Fatiha to inconceivable dimensions: “Disappear with ecstatic love into the Prophet of Allah, and you will disappear into Allah in mystic union (Nur al-Jerrahi, Atom).”

When Holy Quran revealed that the believers should send praises upon the Prophet, the companions came to him asking how they should praise him. After a long silence, the Prophet responded with the following salawat. Since that time, it has been recited in the seated portion of salat. It may also be recited outside of salat.

Allahumma salli ‘ala sayyidina Muhammadin
O Allah, shower your Grace upon our Master Muhammad
wa ‘ala ali Muhammadin
and upon his family
kama sallayta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim
as you have showered Your Grace upon Abraham
and the family of Abraham,
innaka Hamidun Majid
indeed You are Most Praiseworthy and Glorious.
Wa barik ‘ala sayyidina Muhammadin
And bless our Master Muhammad
wa ‘ala ali Muhammadin
and his family
kama barakta ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim
as You have blessed Abraham and the family of Abraham,
innaka Hamidun Majid
truly You are Most Praiseworthy and Glorious.


Allah Most High has revealed that when we pray for blessings upon Muhammad, Allah sends ten blessings upon us.

Making Salawat On the Prophet

Reproduced from:
MUSLIM PERSPECTIVE
Published Monthly by MASJID TUCSON
January 1988 Jumada I 1408
Editor: Rashad Khalifa, Ph.D

The most popular Quranic verse among the Muhammadan masses is 33:56 which says:
"God and His angels support the prophet ;O you who believe,
you shall support him and regard him as he should be regarded."

When you ask the average Muhammadan,
"What do the words SULLOO 'ALAYHI mean," he or she invariably states that they mean, "Utter Salawaat, i.e., meditate on Muhammad day and night." Right here, one detects Satan's trick, and his enormous success in turning sincere Muslims into idol-worshiping Muhammadans. Only a few verses ahead of 33:56, we see a powerful commandment to commemorate our Almighty Creator, Most High, Be He Glorified For Ever - to meditate on His Holy names, and glorify Him day and night:
"O you who believe, you shall commemorate God continuously, and glorify Him day and night" (33: 41-42).
But Satan decided that he would rather see the Muslims commemorate the powerless human being Muhammad (7:188, 10:49, 18:110, 41:6, & 72:21), instead of the Living, Eternal, Lord of all creation. Although Verse 33:43 clearly states that God and His angels: support (YUSAL-LOON) all the righteous believers, Satan succeeded in manipulating the Muslim masses into becoming Muhammadans who dedicate most of their worship to the Prophet.
Let us now look at 33:56 and see what it really says:
(1) First of all, Muhammad is described in this verse as "NABI" (prophet). This particular description is used throughout the Quran, exclusively, when talking about Muhammad when he was alive, and never after his death.
Repeatedly, I have challenged the Muhammadan Ulema to show me a verse where Muhammad is referred to as NABI after his death, and they failed to meet the challenge.
(2) There are many narrations in the Quran that deal with specific historical events, and verses meant for the believers during specified periods. Any narrations connected with the word NABI were applicable only during the prophet's life on this earth. For example, there is a commandment in 49:2 ordering the believers not to raise their voices above the voice of the NABI. How can we carry out this commandment NOW??!!
Obviously, the Prophet is dead (39:30), and has no voice ; this commandment, therefore, ended when the Prophet died.
(3) The words YUSALLOON or SALLOO or YUSALEE or SALAT are all derived from the root word WASALA, the noun being WASL, or making contact. The word SALLOO, therefore, means to keep in contact with the Prophet, to join him, to be with him, and to support him with all our strength. Of course, this could be done only when he was alive. Hence the use of the word NABI.
(4) Because the believers observe the SALAT prayers five times daily, they are in contact with their Creator, and their Creator is in contact with them. This is why we see that God and His angels do the same thing for the believers, as well as for the Prophet (33:42). But the Muhammadans have taken the whole thing out of context, and persist in idolizing Muhammad against his will.
(5) The Prophet himself was ordered to MAKE SALAT (keep in contact or support) the believers (9:103).
The Muhammadan masses forget all these facts; Satan has hypnotized them into commemorating Muhammad and meditating on his name day and night. THIS IS FLAGRANT IDOL WOR-SHIP that is despised by God, his messenger, and all Muslims (only Muhammadans like it). Verse 30:40 reminds us that God is the one who created us; God is the one who provides for us; God is the one who terminates our lives; God is the one who resurrects us for recompense. None of the idols does any of these things. Thus, the true Muslims commemorate their Almighty Creator, meditate on His glorious names, and proclaim His glory day and night.

What is Salawat or Darood?


The word DAROOD is not Arabic. The word SALAWAAT is Arabic. It is usually believed that if we read SALAWAAT on Muhammad [s.a.] for a certain number of times, our sins will be forgiven, so on and so forth.
If we see the Quran, we come to know that it is not only human beings who are to do SALAWAAT but Allah, His angels as well as the prophet [s.a.] also do SALAWAAT on human beings.

Please see the following:
Allah's SALAWAAT on human beings
2:156 When a calamity befalls them, they do not waver. Rather, they say, "We are for Allah, dedicated to His Cause and every step of ours will advance in the Direction shown by Him."
2:157 It is they on whom is SALAWAAT from their Lord [i.e. whom their Lord supports] and blesses with His Grace. And it is they, they who are guided to the most desirable destination.

The above verse clearly indicates that SALAWAAT can also be on human beings from Allah. Now does this mean that Allah reads for a certain time SALAWAAT on people? It does not make sense.

Rasool's SALAWAAT for human beings

9:103 Accept their contribution for the community. Purify their thoughts with proper education and training so that their "Self" may grow. SALLI ALAIHIM [i.e. commend/appreciate them!] Your SALAWAAT [i.e. commendation/appreciation] is a great source of peace in their hearts. Allah is Hearer, Knower.

In the above verse Allah has ordered Muhammad [s.a.] to do SALAWAAT on human beings. Does this mean that Muhammad [s.a.] reads SALAWAAT on people for a certain number of times? It does not make sense.

Allah's and His Angels' SALAWAAT on human beings
33:43 He it is Who bestows His blessings upon you, and supports you [YUSALLI ALAIKUM], and His angels, that He may bring you forth from darkness into the Light. And Merciful is He, indeed, to those who attain belief.

In the above verse Allah and His angles do SALAWAAT on momineen. Does this mean that Allah and His angels reads SALAWAAT on people for a certain number of times? It does not make sense.

SALAWAT of human beings for the RASOOL

9:99 And among the Bedouins are those who believe in Allah and the Last Day and consider their spending as a means towards Allah and a means of SALAWAAT-E-RASOOL [i.e. commendation/appreciation/moral support of the Messenger]. This will raise their ranks with Allah. Allah will embrace them with His Mercy. Verily, Allah is Forgiving, Gracious.

The above verse explains the concept of SALAWAAT by describing "Spending" as a means of "getting appreciation".

Now see the most commonly referred verse according to which momineen should do SALAWAAT on Muhammad [s.a.]

33:56 Verily, Allah and His angels bless the Messenger and commend/support his Mission [YUSALLOONA]. O You who have chosen to be graced with belief! Commend/Support his Mission [SALOO ALAIHI] in total submission.
Consider all the above verses and decide yourself.
Is SALAWAAT just from Momineen for Muhammad [a.s.]?
The answer is no.
The SALAWAAT is also from Allah to human beings.
The SALAWAAT is also from the Messenger [a.s.] for human beings.

So when Allah does SALAWAAT on human beings, Does He read something for a certain number of times on human beings?
SALAWAAT is not reading something for a certain number of times but practically doing something i.e. commending and supporting the mission of the Messenger [a.s.] by whatever means we can.
SALAWAAT is not something that should be a bone of contention whether there should be a SALAWAAT before adhan (i.e. the call for the prayer) or not. It has an utterly different meaning and objective.

What is As Salawat

SALAWAT

What is As Salawat ? As Salawat is the blessing. Is it not strange that Salah is spelt exactly the same as Salawat? In order to understand Salawat we must look at Salah. We have already covered Salah in a separate article on this site. PLEASE READ IT FOR YOURSELF.
Having read the article on Salah we find that we are in fact writing the name AHMAD with our body. So if we are writing the name AHMAD with our body first before we get to LILLAH then why is it wrong to say Salawat or Darood on Muhammad? In other words, we have to write the name AHMAD The Nabee (Prophet) is closer to the believers than their own selves so that is one form of nearness of Muhammad to us than our own selves. Then we finally come to rest in the position of Lillah in the Salah.
Therefore we have to attain first attain nearness to Muhammad before we can attain nearness to Allah.
There is one deviant sect of Muslims who call the Salah 'the Contact Prayer'. They do not believe in sending Salawat upon Muhammad . Can they explain who are they contacting ? Unless they have changed the body movements of the Salah and they are writing the word CONTACT with their bodies !
Therefore the Arabic word Salawat is basically spelt Salat or Salah and both Salah and Salawat draw the seeker closer to Muhammad first and then to Allah. In other words we have to pass through AHMAD first before we rest in LILLAH. If Allah could be approached directly by everyone there was no need to send Messengers (), Allah would have spoken to every person !
In Urdu Salawat is called Darood. Why ? If we look at the word Darood it is spelt Why is it spelt as it is ? If we split the word Darood into two words we get Dar and Wood .
Dar means 'Place' and Wood means 'Love' . Therefore Darood is the Place of Love. Whose place ? Muhammad's ! Whose love ? Allah's love ! Hence the title given to Muhammad Habeeb Allah - the Beloved of Allah.

THE NINETY-NINE NAMES OF ALLAH

The 99 Names of Allah have been taught to us by Muhammad. We have to try and emulate some of the Siffat or Names or Qualities of Allah but we must endeavour to know all the 99 Names. For example, As Saboor is the Patient, we have to try and emulate the quality of patience. Then there is the Name Al Muzill meaning the Degrader, we must KNOW what it means. Why ?
So that we like what Allah likes and we dislike what Allah dislikes. If we go against this rule, then Allah will degrade us. Remeber what happened to Shaytan - Satan when he refused to bow down to Adam () ? Allah wanted Shaytan to bow down to Adam () whom Allah had made with His own hands, but Shaytan did not like what Allah had made and liked. Allah degraded Shaytan !


Rasool Allah said, "Allah has ninety-nine names, i.e. one-hundred minus one, and whoever knows them will go to Paradise."
[Sahih Bukhari]

If Allah loves Muhammadthen we must also love Muhammad. There is no way out. If we do not show respect and love towards Muhammad then how can we say that we like what Allah likes?


56 Allah and His angels send blessings on the Nabee (Prophet): You that believe! send blessings on him and salute him with all respect.
[Quran: Al Ahzab Chapter 33]

May Allah enlighten all the Muslims and guide them to the correct path. Ameen.


Darood (Blessings) and Salaam (Peace) on Muhammad, His Family, and His Companions
Khalid M. Malik Ghouri

ALLAHUMMA SALLI ALA MUHAMMADIN WA ALA ALI MUHAMMADIN KAMA SALLAITA ALA IBRAHEEMA WA ALA ALI IBRAHEEMA INNAKA HAMEEDUM MAJEED
ALLAHUMMA BARIK ALA MUHAMMADIN WA ALA ALI MUHAMMADIN KAMA BARAKTA ALA IBRAHEEMA WA ALA ALI IBRAHEEMA INNAKA HAMEEDUM MAJEED